ep.50 lagi-lagi Dunia StartUp

Posted: July 10th, 2010 | 10 Comments »

panel

Ronald Widha kali ini berdiskusi dengan Selina Limman (urbanesia.com), Ari Awan (flutterscape.com), Rama Mamuaya (Bubu, DailySocial) dan Zeddy Iskandar (Armanovus, Kompas ePaper) tentang topik yang sedang marak yaitu startup. Selina membahas kondisi Urbanesia setelah menerima support dari East Ventures, Ari Awan menjelaskan tipe dukungan yang biasa diberikan oleh investor (Venture Capitalist) dan Inkubator, Rama Mamuaya menjelaskan bagaimana monetisasi akan masih marak datang dari advertisement dan nantinya akan beralih ke social recommendation, Zeddy bercerita bagaimana dibutuhkan organisasi yang memayungi komunitas-komunitas startup yang berbeda-beda ini.

 

Direkam 26 Juni 2010 | 1 jam 12 menit 52 detik

download untuk Indonesia image17 high quality (52.59 MB) image24 low quality (25.00 MB)
download untuk worldwide image17 high quality (52.59 MB)  

 

Bandwidth episode ini disponsori oleh Erudeye Hosting


  • Didats

    servernya dimana ya? kok episode kali ini jadi jauh lebih berat dari tempat saya. cuma dapet 5kb/s.
    biasa bisa dapet sampe 60kb/s.

  • http://www.ronaldwidha.net/ ronaldwidha

    content audio temanmacet dipindah ke dalam IIX (Indonesia). Lokasi kamu dimana Didats?

  • Didats

    oh pantes. saya di kuwait. akses ke IIX memang ga bagus dari sini.

  • http://www.ronaldwidha.net/ ronaldwidha

    aku akan bikin mirror buat worldwide listeners kalo gitu.
    check back tomorrow yah.

  • Wely

    itu susu sapi nasional, hehe

  • http://twitter.com/rreno Reno Raditya

    hey Ronald!
    salam kenal!
    gua baru banget tau ttg @temanmacet nih.
    kemarin abis blogwalking ttg #startuplokal meetup v.3, dan ke-link ke sini.
    good job, Bro!

    oya, gua agak kesulitan nih utk trace episode2 sebelumnya.
    awalnya gua berniat mencari kapan lu pertama siaran.
    satu2nya cara adalah gua klik link “dulu” ampe belasan kali.
    ini gua aja atau emang ga ada indeks yg mempermudah?

  • http://www.ronaldwidha.net/ ronaldwidha

    Halo Reno, terimakasih for the encouraging words.
    Aku sedang mempersiapkan archive section untuk bisa dengan mudah nge-download episode2 lama. You'd be the first person to know once sudah jadi.

  • http://twitter.com/rreno Reno Raditya

    oke! Terima kasih, Ronald.

  • http://andresiregar.com/ Andre Siregar

    Great episode, Ronald. Saya agak penasaran dengan bentuk investasi East VC di Urbanesia. Pertama karena struktur investasi asing untuk perusahaan Indonesia pasti beda dengan yang biasa dilakukan VC di US/negara lain. Kedua karena Selina bilang East VC adalah inkubator, jadi kayaknya ada relationship yang lebih jauh selain tanam modal.

    BTW, East VC mungkin boleh dibilang first-to-market di Indonesia karena mereka sudah explore Indonesia sebelum artikel Sarah Lacy di TechCrunch, sebelum Echelon 2010, dll. Tapi mungkin sekarang sudah banyak investor luar yang mulai melirik Indonesia. Pemerintah Indonesia seharusnya ngambil momentum ini dan memasarkan Indonesia di luar negeri, sekaligus memberikan kemudahan untuk investor dan inkubator masuk. Indonesia butuh expertise, dan terus terang nggak banyak yang punya pengalaman web/internet di dalam negeri.

    Terakhir, mengenai business model di Indonesia, saya rasa model advertising cuma valid untuk perusahaan besar seperti Detik, Kompas, Oke Zone. Realitanya, 30 juta pengguna internet Indonesia itu nggak cukup banyak untuk menjadi advertising income buat 95% perusahaan internet lokal. Apalagi 65% pengguna internet Indonesia pakai Firefox yang punya Ad Blocker.

  • http://www.teknojurnal.com/ Firman Nugraha

    Hmmm, tertarik banget saya dengan apa yang Ari Awan bilang tentang masalah payment gateway dan mengimplementasikan micropayment untuk sumber income. Mungkin salah satu alternatif model transaksi yang bisa digunakan itu semacam SMS charging (ini untuk case-nya aplikasi mobile), repotnya memang harus kerja sama dengan operator. Tapi dari yang saya liat perkembangan vendor handphone dan operator lokal, mereka makin terbuka untuk bekerja sama dengan para pengembang aplikasi mobile. SMS charging juga biasanya menarik biaya sekitar 500-3000 rupiah jadi masih “masuk” untuk kantong orang Indonesia kebanyakan.