akhirnya algoritme yang simple yang memberikan hasil paling memuaskan

#33 Ngebahas soal Scrum bersama Ifnu Bima

Posted: February 14th, 2010 | View Comments  

311967-bigDi episode kali ini, Ronald Widha berbicara dengan Ifnu Bima, dulunya enterpreneur, membangun perusahaan konsultasi Java, Artivisi. Sekarang banyak berkecimpung dalam mengadopsi Scrum.

Download

MP3 23.5MB
MP3 low 7.8MB

Show Notes

Scrum and XP from the trenches
Kanban and Scrum


  • Download dan dengerin ah...
  • Emangnya orang Indonesia bisa menerima cara kerja Scrum?
  • ifnu
    sepertinya bisa, gw kenal seorang ScrumMaster yang implement di tempat kerjanya, salah satu perusahaan consulting yang besar dengan client besar juga.

    Scrum cukup logis dan masuk akal kok, nggak mengada2. Setiap implementasi tentu saja memerlukan adaptasi masing2, sejalan dengan prinsip continues improvement (kaizen)
  • Sorry, gw gak terlalu ngerti scrum. Tapi gw pernah mencoba teknik Agile secara umum, mungkin tidak semuanya saya terapkan. Gw hanya mencoba: User story cards, Automatic testing (unit testing + integration), story point priority. Sukses sih, tapi yang gw takutkan, klien Indonesia itu maunya harga fix tapi permintaan segambreng. Semangat Agile untuk embrace change, menjadi paranoid gw.

    Misalnya, akhirnya di suatu waktu, kita tahu ternyata logic ini tidak sederhana. Lalu minta dana lebih ataupun diubah prioritasnya. Nah, apa orang Indonesia mau terima cara gini?

    Gw punya mimpi sebenarnya untuk punya softwarehouse yang kodenya bersih, bugs free (karena ada testing otomatis), dan kencang (refactoring rajin). Software Indonesia berkualitas. Tapi kayaknya susah banget nyari tempat untuk belajar begituan. Gw dulu bahkan coba melamar di thoughtworks.com :)
  • Cah Sby
    >Gw punya mimpi sebenarnya untuk punya softwarehouse yang kodenya bersih, bugs free (karena
    >ada testing otomatis), dan kencang (refactoring rajin).
    hahahaha
    sama nih, aku bolak balik keluar masuk nyari yg ginian,

    adanya malah aku ngajarin pair programming, ngajarin make source control (blon sampe otomated testing), dan sekarang lagi stuck in the middle of nowhere di mana leadernya ngasih tau fitur dadakan dan ngerubah2 seenaknya tanpa komunikasi.

    emang di yg gede sekelas BC dan mitrais belum embrace agile ya?

    apa mending bikin sendiri kali ya, ngikutin jejak mas ifnu.
    btw, kirain artivisi cuman di training doang mas?
    salam buat mas endy dari anak rohaninya di sby :))
  • ifnu
    wah kalau masalah dana, charging dan seterusnya sih itu bisa diakali dengan tidak berpatokan pada per project. Tapi bisa pake semacam outsourching gitu, bapak mau apa hayoo aja, saya pasang argo. :D. (keknya gw perlu digetok palanya mimpi kek gini).

    Selama Perubahan tidak keluar dari scope aplikasi sih nggak masalah.

    Hal beginian yang benar2 bikin pusing :D. Setidaknya sih kalau bisa scope rigid, feature rigid tapi cara implementasinya menggunakan scrum jadinya lebih terorganisir, komunikasi lancar dan deliver sesuai rencana.

    hanya dengan menaikkan efektifitas komunikasi antar developer dan antara tim dengan client sudah cukup bisa membantu kesuksesan project, ;)
  • pertamax
blog comments powered by Disqus